You are currently browsing the category archive for the 'Kolom' category.
Mohon perhatian: “Menulis bukanlah perkara mudah”. Ini bukan kalimat yang menyenangkan dan dapat dijadikan kutipan untuk dimuat sebuah book of famous quotes. Yang dijadikan kutipan biasanya adalah ekspresi yang sifatnya persuasif dan memberikan dorongan. Sederetan panjang buku kiat menulis selalu mengangkat materi yang menekankan bahwa menulis justru mudah. Seperti biasanya, tentu saja dengan seribu satu prasyarat.
Bersama waktu, tiba-tiba semua kita bisa merasa menjadi terlalu letih, terlalu penuh sesak, seakan tidak ada lagi yang kosong. Segalanya terasa membebani, apa yang sudah ada di dalam seakan tak kuat lagi menerima apa pun lainnya. Mungkin sekali kita bahkan tidak tahu persis hal-hal apa sajakah itu yang memmenuhi dan membuat sistem diri kita menjadi terlalu berat dan lambat. Mungkin saja ada jutaan hal kecil yang hampir tidak bermakna, tetapi hadir sebagai beban yang memenuhkan rongga. Read the rest of this entry »
Ironi bisa terjadi serta merta, tanpa niat apa-apa.
Beberapa waktu lalu, seorang perempuan muda di awal 20-an yang menenteng tas tangan dan headphone MP3 yang menempel di kedua telinga, naik ke dalam bis dan duduk tepat berhadap-hadapan dengan saya. Ia beringsut mematut posisi duduk di kursi bis kota, dengan wajah acuh, musik melantun di telinga. Tak ada yang istimewa, kecuali bahwa ia memang gemuk sekali. Postur yang lazim terlihat di negeri Paman Sam ini. Read the rest of this entry »
Pada hari Minggu, 29 Januari 2006, tepat saat tahun baru Imlek, saya dan keluarga bertandang ke Bandung. Tidak ada kaitannya dengan tahun baru teman-teman Tionghoa tersebut. Di tol Purbaleunyi yang mulai langganan bermasalah, pagi itu masih boleh dilalui kendaraan pribadi, meskipun retakan badan jalan telah terlihat. Bandung diguyur hujan silih berganti, berhenti dan mulai lagi.
Saat singgah di Cibaduyut dan menunggui isteri mencari barang-barang yang diinginkan, seorang penjaja kerajinan senjata tradisional yang terbuat dari bambu datang menawarkan dagangannya. Hanya dua jenis: (1) perangkat sumpit, dan (2) perangkat panahan yang lengkap dengan busur dan anak panahnya.
Read the rest of this entry »
SEBAGAI sebuah pekerjaan rakyat jelata, adakah hubungan antara tukang cukur atau tukang pangkas dengan kekuasaan?
Hernando Tellez, seorang pengarang asal Colombia, dalam sebuah cerpennya “Just Later, That’s All” (Espuma ye nada mas), bercerita tentang peristiwa potong rambut yang dramatis seorang pemimpin militer, Kapten Torress, yang otoriter dan dimusuhi rakyat. Si tukang cukur yang berjiwa revolusioner, saat memegang pisau cukurnya yang tajam mengkilat dihadapkan pada sebuah ujian batin yang intens; sebuah dorongan kuat untuk dengan ringkas menyayatkan bilah tajam pisaunya ke urat leher pemimpin yang dibenci itu. Read the rest of this entry »
Dulu, waktu mahasiswa, ada seorang anak laki-laki kecil kelas 5 atau 6 SD yang memandang saya dengan ekspresi agak kagum. Bukan karena apa-apa, tetapi karena saya memakai kacamata.
“Bang, abang pasti orang pintar, ya?”
“Kok? Maksudnya bagiamana?” tanya saya.
“Abang kan pakai kacamata!” Saya masih belum maklum benar.
“Orang pakai kacamata kan pintar?”

Recent Comments